Belajar Akhlak Dari Rasulullah

Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah seorang manusia pilihan yang dipercaya untuk mengemban wahyu Allah SWT yang diperuntukkan kepada seluruh manusia penghuni jagad ini. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lain daripada yang lain, karena memiliki kesempurnaan penciptaan baik secara fisik maupun akhlak, yang tidak cukup hanya digambarkan lewat kata – kata. Orang – orang yang pernah hidup semasa beliau – kawan maupun lawan-pun mengakui tingginya budi pekerti yang tercermin dalam akhlak beliau sehari-hari, karena kedatangan beliau di planet ini adalah  penyempurna akhlak. Sebagaimana yang pernah beliau tuturkan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

 

  1. Keindahan Fisik

Ummu Ma’bad al-Khuzaiyah pernah berkata tentang diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dia menggambarkan beberapa sifat beliau di hadapan suaminya, saat beliau lewat di kemahnya dalam perjalanan hijrah ke Madinah. “Dia (Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) sangat bersih, wajahnya berseri – seri, bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, di matanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobrol banyak, lehernya panjang, matanya jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam, jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, dia adalah orang yang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat, bicaranya manis”.

Saat sedang berada di dekat Aisyah, beliau berkeringat, hingga membuat raut muka beliau berkilau. Kemudian hal ini digambarkan Abu Kabir Al-Hudzali dalam syairnya, “Jika kulihat raut mukanya, ada kilauan yang memancar di sana.” Selain itu ada banyak lagi para sahabat yang menggambarkan kesempurnaan fisik Nabi Muhammad. Anas berkata, “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aku tidak pernah mencium suatu aroma, minyak kesturi atau bau apapun yang lebih harum daripada aroma dan bau Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Abu Juhaifah berkata, “Aku pernah memegang tangan beliau lalu kutempelkan di wajahku. Ternyata benar – benar dingin dan harum, seakan – akan beliau baru mengeluarkannya dari tempat penyimpanan minyak wangi”

  1. Kesempurnaan Jiwa dan kemuliaan akhlak

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya, dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah, beliau sudah dijuluki Al- Amin (orang yang dipercaya). Sebelum Islam dan pada masa jahiliyah beliau dijuluki sebagai pengadil. At – Tirmidzi meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahl pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang – orang yang mendustakan itu:

“Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu tetapi orang – orang yang zhalim itu mengingkari ayat – ayat Allah.” (Al-An’am: 33)

Muhammad Rasulullah adalah orang yang paling konsisten memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, paling jauh dari akhlak yang buruk, tidak pernah berbuat kekejian dan menganjurkan kepada kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, bukan termasuk orang yang suka membuat hiruk pikuk di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa, tetapi memaafkan dan lapang dada, tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnnya, tidak mengungguli hamba sahaya dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau, tidak pernah membentak pembantunya yang tidak beres atau tidak mau melaksanakan perintahnya, mencintai otang – orang miskin dan suka duduk – duduk bersama mereka, menghadiri jenazah mereka, tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.

Suatu hari dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan kepada para sahabat untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “akulah yang akan menyembelihnya.”

Yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.”

Yang lain berkata, “ Akulah yang akan memasaknya.”

Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”

Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.”

Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tetapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah – tengah rekan – rekannya. Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar.”

Begitulah gambaran akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang patut kita teladani bersama. Sebegitu detail akhlak beliau terhadap sesuatu hingga nihil kekurangan, yang ada hanyalah keanggunan perangai dan kesalihan. Kita sebagai umat beliau yang hidup di zaman modern ini bisa mengamalkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kita (mastatha’tum). Semakin banyak akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari – hari maka kebangkitan dan kejayaan peradaban Islam akan semakin nyata. Keniscayaan bagi umat Islam akan terwujudnya sebuah negara yang Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur.

Muhasabah. Bookmark the permalink.

Mas Panca

Seorang Pembelajar, Sekretaris @PCPMPonjong dan juga Anggota KOKAM Daerah Gunungkidul. Saat ini aktif kuliah dan juga mengajar di SMK Muhammadiyah Wonosari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.