Miskin iman, Miskin Ilmu, Miskin harta

KADHAL FAKRU AN YAKUNA KUFRAN (hampir saja kefakiran menjerumuskan kepada kekafiran)
Al-fakru meski secara kalimat ma’rifat (khusus) namun secara makna adalah umum, Fakir adalah “ketiadaan sesuatu, boleh jadi fakir ilmu, fakir pengalaman, fakir informasi, fakir etik atau fakir budaya dan fakir harta. Dan semua kefakiran tadi akan menjerumuskan pemiliknya kepada kekafiran baik kafir secara maknawi maupun kafir secara istilah

Islam sebenarnya tidak menyukai kemiskinan. Begitu besar bahaya yang ditimbulkan oleh kemiskinan itu, hingga dikatakan dalam hadits Nabi bahwa, kemiskinan itu mendekatkan seseorang pada kekufuran. Selain itu, Ali bin abi Thalib juga pernah berkata bahwa, umpama kemiskinan itu berupa manusia, maka akan saya bunuh. Maka artinya bahwa, Islam memang mengajarkan agar seseorang tidak hidup berkekurangan atau tidak miskin. Sebab, dampak kemiskinan itu sangat berbahaya, hingga mendekatkan seseorang pada kekufuran.

Namun pada keyataannya, masih banyak kalangan umat Islam yang miskin, dan bahkan juga negara-negara Islam. Akibatnya, Islam terkesan belum berhasil menjadi kekuatan penggerak umatnya untuk maju, tidak terkecuali di dalam mengembangkan ekonominya. Hal demikian itu, juga dialami oleh bangsa Indonesia, sebuah negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tetapi tingkat kemiskinannya masih sulit dikurangi.

Orang yang fakir ilmu, ia akan berbicara dan berbuat cenderung di luar perhitungan logika sehat, yang pada akhirnya membuat akal sehatnya menjadi tertutup, tidak ada yang dapat dibanggakan dari dirinya, tidak ada nilai plus, tidak kreativitas yang bisa dihasilkannya.

Orang yang fakir informasi , akan merasa seolah tertutup dari dunia luar, berbeda dengan orang kaya informasi,. Meski berada dalam rumah terasa berada di dunia luar.

Orang yang fakir etika, ia akan merasa ucapan dan tingkah lakunya sudah benar, ia tidak sadar di dunia mana ia berada, yang dalam sebuah ungkapan di sebutkan “di mana bumi di pijak di sana langit dijunjung, ia mengingkari budaya atau etika sekitar.

Yang terakhir fakir harta, masalah ekonomi yang menghimpit kehidupan seseorang tidak jarang cenderung menjerumuskan diri orang tersebut kepada sesuatu sikap di mana ia terpaksa atau suka rela melakukan sesuatu yang bertentangan bahkan menutupi nuraninya, lebih fatal lagi menutupi keimanannya , itulah yang disebut kafir secara istilahi, adapun kafir secara maknawi, adalah menutupi. itu membuktikan bahwa, bangsa ini sebenarnya tidak miskin kemauan.

Umum. Bookmark the permalink.

Mas Surahman

Ketua Seksi Bidang Dakwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ponjong 2010-2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.