Ujian Hidup Bagi Muslim

535934_457000121035286_536998811_n

Ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang muslim bisa berupa dua hal: ujian yang berbentuk musibah dan ujian kenikmatan. Sering kali yang

pertama disebut oleh manusia sebagai ujian yang buruk dan yang kedua disebut

sebagai ujian yang baik. Namun, pada hakikatnya keduanya merupakan ujian dari

Allah. Keduanya memiliki potensi yang sama. Jika lulus menghadapinya akan

mendapatkan pahala dari Allah SWT. Firman Allah

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ

Artinya : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

 

Bagi orang yang beriman, sebenarnya ada rumus umum tentang ujian itu. Bahwa

seorang yang lebih kokoh keimanannya akan mendapatkan ujian yang lebih berat.

Dengan mudah kita bisa menganalogikan bahwa ujian murid SD lebih mudah

daripada ujian murid SMP. Sama halnya UAS BN bagi SMU lebih sulit daripada

UAS BN bagi siswa SMP. Kaidah itu berlaku dalam ujian hidup bagi seorang

mukmin; semakin besar keimanan, semakin berat ujiannya.

Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan Saad bin Abi Waqash mengenai

tingkatan ujian itu.

 

Aku (Sa’ad bin Abi Waqash) bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat

Ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya,

kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya.

Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah

maka akan …diuji sesuai kadar kekuatan agamanya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu

Majah; Shahih menurut Al-Albani)

 IMG0186A

Maka kita melihat betapa sejarah telah menceritakan bahwa ujian-ujian yang paling

berat dialami oleh para Nabi dan Rasul. Demikian pula ujian yang telah dihadapi

oleh salafus shalih dan para ulama’.

Jika keimanan berbanding lurus dengan besarnya ujian, sesungguhnya besarnya

pahala juga berbanding lurus dengan besarnya ujian. Semakin berat ujian seseorang

semakin besar pula pahala yang diperolehnya manakala ia lulus dalam

mengahadapinya. Dan ujian itu juga merupakan tanda cinta dari Allah buat hambahamba

terkasih-Nya.

 

Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. sesungguhnya,

apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia mengujinya. Siapa yang ridha

dengan ujian itu, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya. Siapa yang membenci

ujian itu, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu

Majah, dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah)

 

Jangan dikira bahwa ujian itu hanyalah musibah; sakit, kemiskinan, kesusahan,

keterbatasan, penderitaan, kecelakaan, dan sejenisnya. Kekayaan, kesenangan,

popularitas, jabatan, kepemimpinan, kekuasaan, dan sejenisnya juga merupakan

ujian. Bahkan ujian tipe kedua ini sering kali lebih berat. Dalam arti, tidak banyak

yang bisa menghadapinya dengan sikap yang benar lalu keluar sebagai pemenang

dalam pandangan Allah; lulus ujian.

 

Abdurrahman bin Auf pernah menggambarkan betapa beratnya ujian ini, dan betapa

banyaknya orang yang tidak lulus menghadapinya:

 

Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasulullah SAW dan kami

dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau

wafat, dan kami pun tidak dapat bersabar. (HR. Tirmidzi; hasan menurut Al-Albani)

 

Tampaknya demikianlah sejarah mengatakan kepada kita; menguatkan apa yang

dikatakan Abdurrahman bin Auf. Banyak orang yang ketika diuji dengan kemiskinan

ia mampu menghadapinya dan justru kemiskinan itu semakin meningkatkan

ibadahnya dan menambah kedekatannya kepada Allah. Namun, begitu kaya, ia lupa

dengan ibadah-ibadah yang dulu dijalaninya.

Ada pula orang yang sebelumnya rajin ke masjid dan gemar berinfaq sewaktu

menjadi orang biasa. Namun saat Allah memberinya jabatan, ia justru lupa kepada

Allah dan menjadi tidak peka terhadap orang-orang yang dulu mendukungnya.

Secara institusi, ujian kenikmatan itu juga kerap mendekontruksi bangunan kebaikan

dalam organisasi yang dulunya bisa bersabar dalam keterbatasan.

Pendek kata, apapun yang menimpa kaum muslimin; baik itu ia sukai atau tidak ia

sukai, sesungguhnya adalah ujian. ada yang lulus ada yang tidak lulus dalam

menghadapinya. Dan kenikmatan, seringkali justru menjadi ujian yang lebih berat

dibandingkan kesusahan. Dan kita harus ikhlas dalam menjalani semua ketentuan dari Allah

Fastabihul khairat

One thought on “Ujian Hidup Bagi Muslim

  1. Ketika kita diberikan ujian berupa musibah atau keburukan biasanya banyak yang lulus dari ujian tersebut akan tetapi ketika diberikan ujian berupa kenikmatan dan kebaikan banyak manusia yang tidak lulus dan menjadi hina dihadapan Allah, semoga kita tetap diberikan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *