Mujahadatun Nafs

Di dalam kehidupan ini setiap insan bertarung dengan dirinya sendiri. Adakalanya ia menang dan adakalahnya ia kalah / ia tetap dalam pertarungan yang tiada henti. Memang pertarungan ini tidak akan berhenti sehingga ajal menjemputnya. Allah Berfirman :

Demi diri manusia & Yang menyempurnakan kejadiannya (dengan kelengkapan yg sesuai dg keadaannya); Serta mengilhamkannya (untuk mengenal) jalan yg membawanya kepada kejahatan, & yg membawanya kepada takwa; Sesungguhnya bahagialah orang yg menjadikan dirinya bersih & bertambah bersih (dengan iman & amal kebajikan), Dan sesungguhnya hampalah orang yg menjadikan dirinya kotor & terbenam dalam kekotoran maksiat2. (Asy-Syams:7-10)

Advertisement

Inilah yang terkandung dalam sabda yang diisyaratkan oleh beliau saw :

تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودا عودا فأيما قلب أشرﺑﻬا نكت فيها نكتة السوداء وأيما قلب أنكرها نكت فيها نكتة بيضاء حتى تصير على أحد قلبين :على أبيض مثل الصفاة فلا تضره فتنة والآخر أسود مربادا لا يعرف معروفا ولا ينكر منكرا

Fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yg dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yg dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yg tdk dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbahagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yg tdk lagi terkena bahaya fitnah, selama langit & bumi masih ada. Adapun sebagian yg lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tdk menyuruh pd kebaikan & tdk pula melarang kemungkaran.  (Muslim dari Huzaifah bin Yaman)

Dalam pertarungan menghadapi nafsu manusia terbagi pada 3 golongan :

Pertama : Golongan yang tunduk mengikuti hawa nafsu mereka.

Mereka hidup dengan kemaksiatan di atas muka bumi ini dan ingin hidup kekal di dunia. Mereka adalah orang-orang kafir dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka. Golongan ini lupa dan lalai (kebesaran dan nikmat) Allah, lalu Allah juga membiarkan mereka. Di dalam Al-Quran Allah menyifatkan mereka sebagai orang yang mempertuhankan hawa nafsu, Allah berfirman:

 “Dengan yg demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yg menjadikan hawa nafsunya: Tuhan yg dipatuhinya & dia pula disesatkan oleh Allah karena diketahui-Nya (Bahwa dia tetap kufur ingkar) & ditulikan pula atas pendengarannya & hatinya serta ada lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yg dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia demikian)? Oleh karena itu, mengapa kamu (wahai orang-orang yg ingkar) tdk ingat & insaf?. (Al-Jathiyah:23)

Kedua : Golongan yang bermujahadah dan bertarung menentang hawa nafsunya.

Dalam menentang hawa nafsunya ada kalanya golongan ini mencapai kemenangan & ada kalanya mereka kalah. Namun apabila terlibat dalam kesalahan mereka segera bertaubat. Begitu juga bila mereka melakukan maksiat mereka segera sadar & menyesal serta memohon ampun kepada Allah. Allah berfirman:

“Dan juga orang-orang yg apabila melakukan perbuatan keji / menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka & sememangnya tdk ada yg mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah & mereka juga tdk meneruskan perbuatan keji yg mereka telah lakukan itu, sedangkan mereka mengetahui (akan salahnya & akibatnya).  (Ali Imran : 135)

Ketiga : Golongan yang berada dalam genggaman syetan dan hawa nafsu sebagaimana bola berada di tangan anak kecil. Mereka menyerah diri mereka bulat-bulat kepada syetan dan hawa nafsu.

Inilah golongan yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

كل بني آدم خطاء وخيرا الخطاءين التوابون

“Setiap anak Adam (manusia) itu melakukan kesalahan, sebaik-baik orang yg melakukan kesalahan (dosa) ialah mereka yg bertaubat. (Ahmad & Tirmizi)

Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan satu kisah oleh Wahab Bin Munabbih yang mengatakan : “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Allah Yahya bin Zakaria a. s, lalu Nabi Zakaria a. s berkata kepada Iblis : “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu Iblis menjawab:

  1. Golongan pertama dari manusia ialah seperti kamu ini. Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).
  2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerah diri mereka bulat-bulat kepada kami.
  3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai mereka. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdayakannya dan mencapai hajat kami tetapi ia segera memohon ampun (bila ia sadar) dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.