Empat Perkara yang Tidak Merugikan

Setiap orang apalagi sebagai muslim, pasti menginginkan keberuntungan dalam hidupnya. Baik yang berupa materi, kepercayaan, jabatan yang tinggi, ketenaran dan lain sebagainya. Namun tidak semua keinginan duniawi tersebut bisa diraihnya.

Bagi seorang muslim manakala keinginan duniawinya tidak tercapai, dia tidak akan menganggap hidupnya menjadi sia-sia, apalagi sampai putus asa, masih ada harapan yang lebih mulia untuk diraihnya. Yakni keridloan Allah dan surga yang penuh dengan kenikmatan.

Advertisement

Bila kenikmatan duniawi tidak bisa diraihnya dia tidak merasa hal itu sebagai suatu kerugian besar. Tetapi kerugian besar bagi seorang muslim adalah bila tidak bisa hidup bahagia di akhirat.

Allah berfirman :

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Qs. 11 : 16).

Sabda Nabi Muhammad SAW :

“Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dunia ini adalah penjara bagi orang mu’min -kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga- dan syurga bagi orang kafir -kalau dibandingkan dengan pedihnya siksa di neraka-.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu ada satu hadits Nabi SAW yang memberikan resep kepada kita untuk merasa tidak rugi dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Rasulullah SAW bersabda :

Empat perkara apabila keempatnya ada padamu, maka tidak merugikan engkau dari apa yang tidak engkau peroleh dari dunia yaitu :

Pertama : Benar dalam berbicara

Bicara yang benar merupakan salah satu dari ciri orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan hari akhir, sebagamana firman Allah SWT berikut :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar” (Qs. Al Ahzab : 70)

Bahkan diam menjadi pilihan yang jauh lebih baik untuk dilakukan oleh seorang muslim, daripada harus bicara tapi membinasakan, sebagaimana sabda Nabi SAW :

Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam”. (HR. Muslim).

Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik atau tidak benar, agar selamat dari bencana siksa neraka. Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulutnya) dan diantara kedua pahanya niscaya aku menjamin baginya surga”. (HR. Bukhari).

Kedua : Menjaga Amanah

Kehidupan di dunia ini tak lepas dari amanat, jasmani yang sehat, harta yang banyak, ilmu yang luas, kedudukan yang tinggi, semua itu merupakan amanat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Semua amanat itu harus dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Menjaga amanat merupakan salah satu ciri orang yang beruntung sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Mu’minun ayat 8 :

”…….Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”.

Sebaliknya orang yang tidak menjaga amanat di anggap tidak memiliki agama. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Tidak beriman orang yang tidak memegang amanat, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati amanat”. (HR. Ahmad).

Bahkan dengan diabaikannya amanah ini ternyata membuat dekatnya kedatangan hari kiamat, hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat berikut :

“Seorang Arab Badui bertanya, “Kapankah tibanya kiamat?” Nabi Saw lalu menjawab, “Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari)

Menjaga amanah menjadi penyebab turunnya kasih sayang Allah dan Rasul-Nya :

“Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya”. (HR. Al-Baihaqi)

Ketiga : Akhlak yang Baik

Akhlak yang merupakan kekayaan yang paling mahal harganya bagi seorang muslim. Karena itu Rasulullah SAW di utus untuk memperbaiki akhlak manusia. Itu pula sebabnya mana kala orang tua telah mendidik anaknya dengan akhlak yang baik, itu menjadi pemberian yang paling berharga ketimbang pemberian materi yang paling mahal sekalipun. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik”.(HR. Tirmidzi)

Namun kalau kita amati dewasa ini banyak sekali kita jumpai bagaimana akhlak remaja sekarang ini. Menjadi hal biasa remaja berkata kotor, berani sama orangtua, guru bahkan seringnya kita dengarkan maraknya tawuran antar pelajar, mahasiswa dan lain sebagainya.

Kejadian-kejadian tersebut menjadi cambuk kepada orangtua, agar lebih aktif dan lebih banyak memantau anak-anaknya. Sabda Nabi SAW :

“Nawas Ibnu Sam’an Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.” (Riwayat Muslim).

“Dari Quthbah Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kejelekan akhlak, perbuatan, hawa nafsu, dan penyakit.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim dan lafadz ini menurut riwayatnya).

“Dari Abu Darda’ Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih baik daripada akhlak yang baik.” (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi).

Keempat : Tidak Serakah

Tamak atau serakah merupakan salah satu sifat tercela. Meskipun seseorang telah memperoleh materi yang banyak tapi kalau dia tidak bersyukur, maka tidak akan ada puasnya. Ketidak puasan ini membuat orang terasa miskin sekalipun hartanya banyak.

Rasa syukur kepada Allah SWT membuat seseorang memperoleh keberuntungan yang besar karena Allah akan menambah nikmatnya, sebagaimana firman-Nya :

“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim : 7).

Sementara orang yang tamak akan mengalami kerugian yang besar baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dia tidak memiliki rasa optimis terhadap hari-hari mendatang, selalu curiga terhadap kemajuan yang dicapai orang lain yang pada akhirnya ia tidak di sukai oleh Allah SWT dan manusia, Nabi SAW bersabda :

“Sahabat datang pada Rasulullah SAW guna menanyakan tentang amalan yang akan membuat manusia dicintai Allah dan manusia. Nabi SAW menjawab ; hiduplah didunia dengan zuhud maka kamu akan dicintai Allah SWT, dan janganlah tamak terhadap apa yang ditangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia”. (HR. Ibnu Majah).

Hadis riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata:

Rasulullah saw. pernah memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata: Berikanlah saja kepada orang yang lebih memerlukannya dariku. Pada lain kali beliau memberiku uang, aku berkata: Berikanlah kepada orang yang lebih memerlukannya dariku. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Ambillah! Apapun harta yang datang kepadamu, sedangkan engkau tidak tamak dan tidak meminta, maka ambillah dan apa yang datang kepadamu, maka janganlah engkau jiwamu mengikutinya. (Shahih Muslim No.1731)

Akhirnya semakin kita sadari kalau keberuntungan dalam hidup didunia tidak bisa semata-mata diukur dengan tinjauan materi. Sekalipun kita tidak memperoleh kenikmatan materi, kita tetap dikatakan beruntung jika kita menjalani kehidupan ini sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Wallahu a’lam.  (Abu Syafi’ah)

One thought on “Empat Perkara yang Tidak Merugikan

  1. Bagaimana cara agar kita sekiranya mampu menjaga dan melaksanakan untuk mnghindri 4 perkara yang merugikan itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.