Sekadar Renungan Untuk Pemuda Muhammadiyah

Oleh:Wahyudi Abdurrahim; Kabinet sudah dilantik. Para mentri sudah resmi duduk di kursinya masing masing. Wajah sumringah nampak dari muka mereka dan juga para pendukungnya. Dengan semangat baru, mereka mulai bekerja demi membangun negeri. Harapan kita semua, tentunya mereka bisa menjalankan amanah rakyat dengan sebaik mungkin.

Tentu saja, agar mereka juga bisa mawas diri dan tidak tergoda untuk melakukan tindak korupsi.

Tapi tidak semua pendukung Jokowi puas. Hampir pasti ada relawan yang merasa dikecewakan. Kerja keras mereka selama ini ternyata tidak dihargai dengan penempatan calon menteri yang mereka rekomendasikan, meski itu hanya satu menteri saja. Barangkali di antara yang kecewa ini adalah para relawan yang sebelumnya mengatasnamakan Muhhammadiyah.

Advertisement

Meski para relawan itu dengan berani “menjual Muhammadiyah” dan membentuk lambang mirip dengan Muhammadiyah, kenyataannya tidak satu kader Muhammadiyah pun yang duduk sebagai menteri. Memang mengecewakan.

 

Tapi urusan mentri adalah hak presiden. Bagi Pemuda Muhammadiyah, bergerak di luar politik praktis semestinya menjadi salah satu pilihan prioritas. Jika mereka tertarik dengan politik, sekalian saja masuk ke partai politik. Tidak usahlah membawa Muhammadiyah ke panggung politik. Itu akan jauh lebih nyaman. Jadi masuk ke panggung politiknya tidak nanggung. Muhammadiyah akan senang dengan kadernya yang baik dan mau berkecimpung ke pentas politik nasional. Namun jika sekadar membuat sukarelawan atas nama Muhammadiyah, itu hanya menyandera Muhammadiyah.

Pekerjaan rumah Muhammadiyah sangat banyak. Kita bisa aktif membangun negeri ini melalui jalur dakwah. Untuk membangun negeri dan memperbaiki nasib bangsa tidak harus jadi politisi. Bekerja tanpa pamrih dengan memberikan perhatian penuh pada kondisi umat juga bagian dari peran kita dalam membangun bangsa.

Sekarang ini banyak ranting yang kempang kempis, hidup segan matipun tak mau. Ranting yang hanya sekadar mempunyai nama, namun tidak ada aktivitas organisasi. Jangankan amal usaha, pengajian mingguan saja tidak jalan. Ranting ini yang hendaknya kita beri perhatian penuh. Itu jauh lebih bermanfaat daripada menjadi relawan yang pada akhirnya membawa kekecewaan.

Amal usaha kita banyak yang tidak ada pengajiannya. Bahkan banyak pekerja di amal usaha yang hanya prakmatis. Mereka kerja di Muhammadiyah bukan karena tuntutan dakwah. Mereka ini hanya mencari kebutuhan materi. Mereka bahkan tidak kenal Muhammadiyah. Sebagian dari mereka malah bukan orang Muhammadiyah.

Sesungguhnya kehilangan amal usaha Muhammadiyah jauh lebih menyesakkan daripada kesedihan karena kabinet kosong dari kader Muhammadiyah.

Kematian ranting jauh lebih memprihatinkan dibandingkan dengan kekecewaan atas keputusan sang presiden.

Untuk pemuda Muhammadiyah yang kemarin terseret dengan arus politik, kembalilah ke Muhammadiyah.

Mari bersama-sama membangun negeri melalui jalur organisasi.

Tentang Penulis

Nama: Wahyudi Abdurrahim.
Asal: Temanggung, Jawa Tengah.  Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1996);
Ma’had Bu’uts Al-Azhar Kairo (2001);
Mahasiswa SI Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo;
S2 di Ma’had Ali Lidirasah Islamiyah Kairo (2011).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *