Menjaga Hati dari Perkara-Perkara Syubhat

Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia yang menjaga hatinya dari perkara-perkara syubhat yang dapat mengkeruhkan keyakinannya, dan adalah dia yang dapat menjaga hatinya dari perkara-perkara syahwat yang dapat menyesatkan dan menyengsarakannya.

Hati memiliki kedudukan yang penting bagi hidup setiap manusia. Apabila hati telah hilang, maka hilanglah segala hidupnya. Apabila hati telah rusak, maka rusaklah segala perilaku hidupnya.

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam badan/tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh badan. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh badan. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhori-Muslim)

Advertisement

Maka hendaknya setiap kita selalu menjaga hati dan menatanya agar tetap dalam kondisi yang baik dan bersih dari noda-noda hitam dosa. Setiap manusia akan merugi pada hari kiamat, kecuali dia yang datang dalam keadaan hatinya bersih lagi sejahtera. Tidak ada syahwat, tidak ada syubhat di dalam hatinya. Tidak ada sesuatu pun di dalam hatinya kecuali kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammad rasulullaah.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) [الشعراء : 88 ، 89]

“(Pada hari kiamat) hari yang mana harta benda dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali dia yang datang dengan hati yang sejahtera (hati yang selamat dan bersih dari dosa).” (Asy Syu’ara : 88-89)

masjid apek 2014
masjid apek 2014

Dialah hati yang tidak ada kesyirikan di dalamnya, tidak ada riya’, tidak ada kemunafikan, tidak ada kesombongan, tidak ada kebanggaan diri, tidak ada dendam, tidak ada dengki. Hatinya murni penuh dengan tauhid Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penuh dengan keikhlasan dan kejujuran. Penuh dengan ketawakkalan dan penyandaran diri yang tulus hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana hati kholilullah Ibrahim ‘Alaihis Salam.
إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ [الصافات : 84]

“(ingatlah) ketika dia Ibrahim datang kepada Rabbnya dengan hati yang bersih (ikhlas sepenuhnya hanya untuk Allah).” (Ash Shoffat : 84)
Menjaga Allah

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Kaum muslimin rahimakumullah…

Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda (berpesan) kepada seorang anak muda, yang mana dia adalah anak pamannya. Dia-lah Abdullah ibn ‘Abbas Radiyallahu ‘Anh. Apakah gerangan sabda yang dipesankan kepada anak muda yang mulia ini?. Marilah kita simak langsung dari penuturan Abdullah ibn ‘Abbas Radiyallahu ‘Anh, beliau berkata;

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»

“Pada suatu hari, aku berada di belakang Rasulillah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian beliau bersabda kepadaku; ‘wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarimu (aku berpesan kepadamu) beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya ada di hadapanmu, apabila kamu meminta maka mintalah hanya kepada Allah, apabila kamu mohon pertolongan maka mohonlah pertolongan hanya kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sekiranya suatu kaum berkumpul untuk mendatangkan kemanfaatan bagimu (mendatangkan kebaikan untukmu), maka mereka tidak akan dapat melakukan hal itu melainkan hanya sedikit saja sekedar apa yang telah Allah tentukan untukmu, dan kalau sekiranya mereka hendak mendatangkan bahaya kepadamu (mendatangkankan kemadhorotan atasmu), maka mereka tidak akan dapat melakukan hal itu melainkan sedikit saja sekedar apa yang telah Allah tentukan atasmu. Pena telah terangkat, dan lembar-lembar takdir telah mengering (segalanya telah ditetapkan sebagai ketetapan yang pasti).” (HR. at Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh al Albani)

Kaum muslimin rahimakumullah…

Dari hadits ini, khotib hanya akan menjelaskan kalimat yang pertama, yaitu

“Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu!.”

Lalu apakah yang dimaksud dengan menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala?.

Imam Abdurrahman ibn Abi Bakr Jalaludin as Suyuthi Rahimahullah dalam kitabnya Qutul Mughtadzi berkata, Imam al Kahfani Rahimahullah berkata,

“Menjaga Allah, maksudnya adalah kamu menjaga perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kamu bertakwa kepadaNya. Maka jangan sampai Allah melihatmu berbuat kemaksiatan atau berbuat pelanggaran terhadap perintahNya.”

Dan Imam Ibn Daqiq al ‘Id Rahimahullah berkata,

“Memjaga Allah maksudnya adalah, jadilah kamu orang yang selalu ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berteguh dalam menjalankan perintahNya dan dalam menjauhi laranganNya.”

Kaum muslimin rahimakumullah…

Dan merupakan perbuatan seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan menjaga anggota badannya agar tidak digunakan untuk hal kemaksiatan atau perbuatan dosa. Maka hendaknya setiap kita memperhatikan dan merenungkan siapa sebenarnya di balik rupa kita ini. Siapa sebenarnya di balik anggota badan kita ini?

Kaum muslimin rahimakumullah…

Ada 5 anggota badan dari diri kita ini yang perlu direnungkan bersama oleh kita. Sudahkah kita menjaga ke 5 anggota badan ini untuk tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

1. Menjaga Hati.

Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia yang menjaga hatinya dari perkara-perkara syubhat yang dapat mengkeruhkan keyakinannya, dan adalah dia yang dapat menjaga hatinya dari perkara-perkara syahwat yang dapat menyesatkan dan menyengsarakannya.

Hati memiliki kedudukan yang penting bagi hidup setiap manusia. Apabila hati telah hilang, maka hilanglah segala hidupnya. Apabila hati telah rusak, maka rusaklah segala perilaku hidupnya.

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam badan/tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh badan. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh badan. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhori-Muslim)

Maka hendaknya setiap kita selalu menjaga hati dan menatanya agar tetap dalam kondisi yang baik dan bersih dari noda-noda hitam dosa. Setiap manusia akan merugi pada hari kiamat, kecuali dia yang datang dalam keadaan hatinya bersih lagi sejahtera. Tidak ada syahwat, tidak ada syubhat di dalam hatinya. Tidak ada sesuatu pun di dalam hatinya kecuali kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammad rasulullaah.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) [الشعراء : 88 ، 89]

“(Pada hari kiamat) hari yang mana harta benda dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali dia yang datang dengan hati yang sejahtera (hati yang selamat dan bersih dari dosa).” (Asy Syu’ara : 88-89)

Dialah hati yang tidak ada kesyirikan di dalamnya, tidak ada riya’, tidak ada kemunafikan, tidak ada kesombongan, tidak ada kebanggaan diri, tidak ada dendam, tidak ada dengki. Hatinya murni penuh dengan tauhid Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penuh dengan keikhlasan dan kejujuran. Penuh dengan ketawakkalan dan penyandaran diri yang tulus hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana hati kholilullah Ibrahim ‘Alaihis Salam.
إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ [الصافات : 84]

“(ingatlah) ketika dia Ibrahim datang kepada Rabbnya dengan hati yang bersih (ikhlas sepenuhnya hanya untuk Allah).” (Ash Shoffat : 84)

Kaum muslimin rahimakumullah…

2. Menjaga Lisan

Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia yang menjaga lisannya. Lisan memiliki perkara yang sangat mengagumkan. Berapa banyakkah kehormatan orang yang hancur disebabkan oleh lisan? Berapa banyakkah harga diri yang menjadi rendah disebabkan oleh lisan? Berapa banyakkah rumah tangga yang runtuh disebabkan oleh lisan? Dan berapa banyakkah kemaksiatan yang keluar dari lisan, namun kita tidak pernah menyadarinya? Ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), mengejek, menghina, berdusta, menipu, atau saling berdebat untuk sesuatu yang tidak berguna, tidak ada manfaatnya sama sekali.
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يُرِيدُ بِهَا بَأْسًا، يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya seseorang berkata dengan satu kalimat, ia menganggapnya biasa. Tapi ternyata kalimat tersebut menjadikannya terlempar ke dalam api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Ahmad, dishohihkan oleh Syaikh al Albani)

إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب

“Sesungguhnya seseorang berkata dengan satu kalimat yang tidak ada kejelasan di dalamnya (dia mengucapkannya tanpa ilmu). Maka oleh sebab kalimat itu, dia tergelinicir ke dalam api jahannam sejauh jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhori-Muslim)

Maka hendaknya setiap kita menjaga lisan ini, agar tidak keluar darinya kecuali sesuatu yang mendatangkan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau sesuatu yang menggembirakan hati orang yang mendengarnya. Abu Bakar ash Shiddiq Radiyallahu ‘Anhu berkata,

ولله ما شيئ أحق بطول حبس من اللسان

“Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih berhak untuk terus dijaga sepanjang waktu daripada lisan ini.”
Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik, (kalau tidak bisa) maka lebih baik ia diam saja.” (HR. Bukhori-Muslim)

Dan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أضمنْ لَهُ الجنَّةَ

“Barangsiapa memberi jaminan kepadaku, apa yang ada diantara kumis dan jenggotnya (yaitu lisan), dan apa yang ada diantara kedua kakinya (yaitu kemaluan), maka aku menjamin baginya Surga.” (HR. Bukhori)

[bersambung]

Tausiyah , . Bookmark the permalink.

Jauhari

Alhamdulillah, Saat ini Aktip Bertani di @DesaPonjong dan juga mengembangkan Website Komunitas Situs Anti Gaptek! http://ngonoo.com

One thought on “Menjaga Hati dari Perkara-Perkara Syubhat

  1. Artikel yang bagus dan sangat menginspirasi, memang kadang kita merasa bahwa masih banyak penyakit penyakit dalam hati kita, semoga saja dengan membaca artikel ini kita bisa lebih instropeksi diri kita khususnya saya pribadi,jazakallah khairan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.