Hadits 31: Dua Muslim yang Saling Membunuh, Keduanya Masuk Neraka

Alhamdulillah, pembahasan hadits Shahih Bukhari beserta penjelasannya kini memasuki hadits ke-31, masih berada di bawah Kitab Al-Iman (كتاب الإيمان).
Imam Bukhari memberi judul hadits ini باب ( وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ) فَسَمَّاهُمُ الْمُؤْمِنِينَ (Bab “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” Allah menyebut tetap mereka mukmin). Untuk memudahkan, pembahasan hadits ke-31 Shahih Bukhari ini kita beri judul: Dua Muslim yang Saling Membunuh, Keduanya Masuk Neraka.

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-31:

عَنِ الأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ ذَهَبْتُ لأَنْصُرَ هَذَا الرَّجُلَ ، فَلَقِيَنِى أَبُو بَكْرَةَ فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قُلْتُ أَنْصُرُ هَذَا الرَّجُلَ . قَالَ ارْجِعْ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Dari Al-Ahnaf bin Qais bahwa ia berkata, “Pada suatu ketika saya hendak pergi menolong seseorang yang sedang berkelahi. Secara kebetulan saya bertemu Abu Bakar, ia pun berkata, “Mau ke mana kau?” Kujawab, “Aku akan menolong orang itu.” Ia berkata lagi, “Kembalilah! Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dua orang muslim berkelahi dan masing-masing mempergunakan pedang maka si pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka.” Aku bertanya, “Hal itu bagi pembunuh, bagaimana dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena orang yang terbunuh itu juga berusaha untuk membunuh saudaranya.”

Penjelasan Hadits

عَنِ الأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ ذَهَبْتُ لأَنْصُرَ هَذَا الرَّجُلَ ، فَلَقِيَنِى أَبُو بَكْرَةَ فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قُلْتُ أَنْصُرُ هَذَا الرَّجُلَ
Dari Al-Ahnaf bin Qais bahwa ia berkata, “Pada suatu ketika saya hendak pergi menolong seseorang yang sedang berkelahi. Secara kebetulan saya bertemu Abu Bakar, ia pun berkata, “Mau ke mana kau?” Kujawab, “Aku akan menolong orang itu.”

Dalam hadits ini tidak disebutkan dialog awal antara Al-Ahnaf dan Abu Bakar. Kita tidak mendapatkan ucapan salam ketika keduanya bertemu karena tidak ada keharusan untuk menceritakan kisah secara lengkap dalam periwayatan. Yang penting adalah dialog yang relevan dengan pembahasan hadits yang hendak disampaikan.

Pada hadits ke-29 yang telah dibahas sebelumnya, bahkan diperbolehkan bagi perawi untuk menyampaikan hadits secara tidak lengkap (mencuplik sebagian), asalkan tidak merusak maknanya.

قَالَ ارْجِعْ
Ia berkata lagi, “Kembalilah!”

Riwayat Al-Ahnaf ini menunjukkan potret kehidupan sahabat Nabi yang peduli dengan sesamanya. Baik Al-Ahnaf maupun Abu Bakar. Bedanya, Al-Ahnaf belum mengetahui bagaimana hukum perkelahian yang dilakukan oleh dua orang tersebut. Kepedulian Abu Bakar tidak kalah besar. Setelah tahu tujuan Al-Ahnaf, Abu Bakar mencegahnya agar tidak menolong salah satunya. Larangan Abu Bakar ini dimungkinkan ia mengetahui lebih detail bahwa kedua orang tersebut tak bisa lagi dilerai.

قَالَ ارْجِعْ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dua orang muslim berkelahi dan masing-masing mempergunakan pedang maka si pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”

Di sinilah poin penting yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin. Bahwa kepedulian terbesar seorang muslim kepada muslim lainnya adalah mengupayakannya agar berada di atas petunjuk; mengajaknya agar menetapi Al-Qur’an dan sunnah. Dan itulah yang dilakukan Abu Bakar kepada Al-Ahnaf. Ia menunjukkan sabda Rasulullah SAW terkait kasus kedua orang yang berkelahi itu.

Korelasi sabda Rasulullah SAW ini dengan masalah iman adalah bahwa ada perbuatan-perbuatan maksiat atau dosa yang bisa menjerumuskan seorang muslim ke neraka. Misalnya adalah perbuatan dua orang yang berkelahi dan saling membunuh. Namun demikian, selama kedua orang tersebut tidak melakukan kesyirikan, keduanya masih dikategorikan sebagai muslim. Bahkan, dalam QS. Al-Hujurat ayat 9 disebutkan bahwa dua pihak yang berperang masih disebut mukmin; dan itulah yang dijadikan judul oleh Imam Bukhari dalam hadits ini.

Jika perkelahian itu benar-benar saling membunuh, lalu salah satunya terbunuh, maka kedua-duanya masuk neraka. Inilah yang harus diwaspadai oleh kaum muslimin agar tidak sampai terbawa emosi dan tersulut amarah kemudian terlibat persengketaan dan perkelahian dengan sesama muslim.

فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ
Aku bertanya, “Hal itu bagi pembunuh, bagaimana dengan yang terbunuh?”

Abu Bakar bertanya mengapa yang terbunuh juga masuk neraka. Kalau yang membunuh, ia pantas masuk neraka karena perbuatan buruknya itu; menghilangkan nyawa seorang muslim. Tapi yang terbunuh? Bagaimana penjelasannya?

Sikap Abu Bakar ini –sebagaimana sikap sahabat yang lain dalam hadits sebelumnya- juga merupakan potret karakter para sahabat yang mengamalkan wahyu; فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya’ : 7). Dan lihatlah, pertanyaat mereka adalah pertanyaan emas. Pertanyaan yang begitu jawabannya diketahui membawa efek/perubahan bagi amal mereka.

قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ
Beliau menjawab, “Karena orang yang terbunuh itu juga berusaha untuk membunuh saudaranya.”

Inilah jawabannya. Karena ia (yang tebunuh), juga berusaha membunuh. Jika ada yang bertanya, bukankah ada hadits lain yang menjelaskan bahwa seorang yang berniat jelek tidak dihitung dosa sebelum melakukannya? Jawabannya adalah, orang ini bukan hanya niat, tetapi juga telah berbuat. Yaitu ia juga berusaha membunuh. Kalau saja bukan karena kedahuluan ia terbunuh, tentu dialah yang membunuh.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Diantara karakteristik para sahabat adalah peduli dengan sesama muslim, selalu berusaha membantu dan menolong mereka. Dan kepedulian terbesar adalah membuat seorang muslim berada di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah;
2. Wajib menyampaikan ilmu yang telah diketahui, khususnya jika kebutuhannya mendesak dan jika tidak disampaikan akan menimbulkan kemudharatan;
3. Tidak boleh bagi seorang muslim berkelahi dengan muslim yang lainnya, apalagi sampai pada tingkat saling berusaha membunuh;
4. Dua orang muslim yang berkelahi dan saling membunuh, maka keduanya diancam masuk neraka, baik yang membunuh maupun terbunuh;
5. Ada perbuatan-perbuatan maksiat, seperti berkelahi ini, yang menyebabkan seorang muslim masuk neraka tetapi tidak otomatis mengeluarkannya dari agama.

Demikian hadits ke-31 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga kita dihindarkan dari permusuhan sesama muslim, apalagi sampai pada taraf saling membunuh. Semoga Allah senantiasa menjaga kita berada dalam ukhuwah Islamiyah; saling mencintai, saling menyayangi. Wallaahu a’lam bish shawab.(Tarbawia)

Umum. Bookmark the permalink.

Mas Surahman

Ketua Seksi Bidang Dakwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ponjong 2010-2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *