Pemuda Jangan Hanya Jadi Penonton


Sekarang, kita pantas prihatin. Banyak pemuda yang diam melihat permasalahan yang ada di negeri ini.

Padahal, imprealisme dan neokapitalisme telah banyak menimbulkan kerusakan di negeri ini. Kemiskinan, pengangguran, perampasan tanah, ketimpangan ekonomi, dan segudang persoalan lainnya.

Kebanyakan mahasiswa juga tidak peka dengan kondisi yang ada di lingkungan mereka. Mereka hanya mementingkan pribadi mereka saja.

Padahal, zaman sekarang bila tidak mampu mencari jaringan, menganalisa persoalan rakyat dengan baik dan menggali keahlian yang dibutuhkan, maka kita sebagai pemuda akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Karenanya, pada peringatan 89 tahun Sumpah Pemuda saat ini, mari kita para pemuda saling mengingatkan dan menasehati untuk kemajuan. Jangan sampai kita hanya mengejar nilai akademik yang baik, padahal kita sebenarnya tidak memahami realitas sosial dan hakikat dari ilmu yang kita timba.

Kini kita berjuang pada masa sulit. Seperti pernah dikatakan Presiden RI pertama, Sukarno, jauh lebih sulit perjuangan pemuda saat ini ketimbang zaman dulu. Karena dahulu pemuda merebut, namun sekarang harus mempertahankan.

Tak ada kata lain, kita harus bersatu padu, tinggalkan hal negatif yang tidak menguntungkan dan memberikan kita kemampuan untuk berpikir dan bertindak besar bagi bangsa dan negara.

Sumpah Pemuda harus kita maknai sebagai perjuangan untuk melanjutkan tongkat estafet para pemimpin terdahulu dalam membangun negeri ini.

Karena negeri ini butuh anak muda yang mampu memberikan solusi, bukan caci maki. Negeri ini butuh pemuda yang kaya akan karya dan mampu menciptakan pemikiran-pemikiran baru untuk Indonesia yang jauh lebih maju.

Berbuat adalah hal yang terbaik untuk membangun kembali semangat pemuda saat ini. Sekarang saatnya yang muda bergerak dan berbuat, bukan hanya menjadi penonton, tapi masuk dalam ring politik, panggung kekuasaan yang sesungguhnya guna perjuangan hebat mensejahterakan rakyat.

Anak muda harus berani memimpin negara ini. Jika perlu, menggantikan seluruh generasi tua, baik tua dalam hal pemikiran maupun tua dalam hal tindakan.

Mari kita gantikan generasi loyo, generasi sontoloyo, generasi korup, generasi cengeng, generasi alay dan generasi birahi yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, golongannya, dan orang dekat-dekatnya.

Dengan demikian, negeri ini memiliki darah segar untuk membangun, negeri ini punya anak-anak muda berpikir brilian, yang berani membuat kekuasaan tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kebersatuan, nilai-nilai keadilan sosial, nilai-nilai kerakyatan dan nilai-nilai ketuhanan.

Oki Syahputra Jaya, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Umum. Bookmark the permalink.

Mas Surahman

Ketua Seksi Bidang Dakwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ponjong 2010-2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *